PENGARUH ORANG TUA TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK

Al-Imam Ibnul Qayyim mengatakan,

“ Betapa banyak orang yang mencelakakan anaknya (belahan hatinya) di dunia dan akhirat karena tidak memberi perhatian dan tidak memberikan pendidikan adab kepada mereka. Orang tua justru membantu si anak menuruti semua keinginan syahwatnya. Ia menyangka dengan berbuat demikian berarti dia telah memuliakan si anak, padahal sejatinya dia telah menghinakannya. Bahka, dia beranggapan, ia telah memberikan kasih sayang kepada anak dengan berbuat demikian. Akhirnya, ia pun tidak bisa mengambil manfaat dari keberadaan anaknya. Si anak justru membuat orang tua terluput mendapat bagiannya di dunia dan akhirat. Apabila engkau meneliti kerusakan yang terjadi pada anak, akan engkau dapati bahwa keumumannya bersumber dari orang tua. “ (TuhfatulMaudud hlm. 351)1

 Peran Orang Tua Bagi Perkembangan Anak

Majelis Umum PBB (Megawangi, 2003) menjelaskan bahwa fungsi utama keluarga adalah sebagai wahana untuk mendidik, mengasuh, dan mensosialisasikan anak, mengembangkan kemampuan seluruh anggotanya agar dapat menjalankan fungsinya di masyarakat dengan baik, serta memberikan kepuasan dan lingkungan yang sehat guna tercapainya keluarga, sejahtera. Mendidik dan membesarkan anak agar menjadi manusia yang berguna adalah tanggung jawab orang tua. Namun sebagian orang tua belum mampu mengerti anak dan banyak juga anak yang tidak mengerti orang tuanya. Akibatnya hubungan anak dan orang tua menjadi renggang. Sebagian orang tua juga menggunakan hak prerogratifnya, yang mana anak harus patuh dan tidak boleh melawan orang tua, sehingga anak semakin jauh dari orang tua (Tim Penerbit Buku Kompas, 2001: 6).

Pada umumnya orang tua mengajari anak dengan empat cara yaitu memberi contoh, respon positif, tidak ada respon, dan hukuman (C Drew Edwards, 2006: 49-50).

  1. Memberi contoh Anak menyerap apa yang dilakukan dibandingkan dnegan pa yang dikatakan. Jika orang tua megatakan pada anak untuk bicara sopan, namun orang tua berbicara kasar maka orang tua telah menyangkal diri sendiri. Perbuatan lebih berpengaruh dibandingkan dengan kata-kata.
  2. Respon positif Jika kita mengatakan pada anak betapa kita menghargainya karena telah menuruti nasehat.
  3. Tidak ada respon Mengajari anak dengan cara mengabaikan sikap anak agar sikap yang tidak direspon tidak diulang.
  4. Hukuman Hukuman tidak membantu apabila diberikan dengan sering, dan bila hukuman terlalu keras dapat menjadikan sikap negatif dan reaksi emosional anak. Keempat tindakan tersebut sebaiknya dipertimbangkan penerapannya agar tidak menghambat perkembangan anak. Misalnya hukuman, hukuman akan diberlakukan apabila anak melanggar aturan berulang kali. Hukuman tidak bermaksud untuk menyakiti anak, tapi untuk memberikan pelajaran dan pengalaman pada anak bahwa perilakunya tidak baik dan sebaiknya tidak diulang. Sedangkan memberi contoh (teladan) dan respon positif sebaiknya diberikan sebagai bentuk penguatan dan penghargaan pada usaha anak.

Peran Orangtua dalam Pendidikan

Para ahli berpendapat bahwa peranan orang tua begitu besar dalam membantu anak agar siap memasuki gerbang kehidupan mereka. Ketika memasuki gerbang tersebut, mereka masuk dalam dunia independen yang sudah seharusnya terlepas dari orang tua, dimana keputusan hidup mereka sudah harus dapat dilakukan sendiri. Disinilah peran orang tua sudah berkurang, dan melihat hasil didikan mereka. Maka perlu adanya partisipasi orang tua terhadap pendidikan anak usia dini agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki gerbang kehidupan tersebut. Pelaksanaan suatu program pendidikan anak usia dini tidak akan berjalan dengan lancer dan baik, jika tidak ada peran dari orang tua muridnya. Karena pendidikan anak sebenarnya merupakan tanggung jawab penuh dari orang tuanya. Tanggung jawab ini diwujudkan dalam keterlibatan langsung orang tua dalam pendidikan anaknyadari sejak lahir. Hasil penelitian (Henderson dan Mapp,2002; National Standard For Parent/Family Involvement Programs,2004) menunjukkan partisipasi orang tua berhubungan dengan:

  1. Prestasi anak
  2. Ketika orang tua terlibat tanpa melihat status social ekonomi, latar belang ras atau tingkat pendidkikan orang tua anak menunjukkan prestasi yang lebih tinggi
  3. Ketika orang tua terlibat dalam pendidikan anak-anaknya, anak mereka memiliki skor tes yang lebih tinggi
  4. Dalam program yang dirancang untuk melibatkan orang tua dalam kemitraan yang penuh prestasi anak-anak dari keluarga tidak beruntung mampu mencapai level standard seperti yang dipersyaratkan d. Dengan pengaruh orang tua, anak-anak dapat lulus dengan nilai yang lebih tinggi
  5. Anak-anaknya memiliki kesempatan lebih besar masuk perguruan tinggi
  6. Perilaku anak
  7. Ketika siswa mendapat dukungan dari orang tua , mereka memiliki kepercayaan diri lebih tinggi dan cenderung melakukan sesuatu yang lebih baik
  8. Dengan keterlibatan orang tua, menunjukkan anak-anak mempunyai perilaku yang lebih positif dan penurunan perilaku kekerasan, narkoba, antisocial
  9. Budaya

Sekolah yang berhasil adalah sekolah yang selalu melibatkan orang tua dari berbagai latar belakang sosialekonomi-budaya, memusatkan diri membangun kemitraan yang menguntungkan antara para guru, keluarga, dan anggota masyarakat, mengembangkan pandangan kemitraan bahwa wewenang dan tanggung jawab adalah dipikul bersama-sama.

  1. Usia

Keterlibatan orangtua tidak terbatas pada anak usia dini tetapi bisa juga siswa SMP/SMA. Mereka diharapkan mampu melakukan peralihan yang lebih baik, memelihara kualitas kerja mereka, dan mengembangkan rencana-rencana realistis terkait masa depan mereka.

  1. Kualitas Sekolah

Sekolah yang memiliki kerja sama yang baik dengan orang tua, menunjukkan semangat guru yang meningkat dan mendapat penilaian yang lebih tinggi dari para orang tua dan masyarakat. Sekolah yang dinilai bagus dalam program kemitraan dengan orang tua memperlihatkan hasil ujian nasional yang lebih baik.

Sekali lagi yang perlu diingat oleh kedua orang tua adalah jika seorang anak atau remaja kurang mendapatkan perhatian dari orang tua, besar kemungkinan dia akan menjadi seorang anak dan remaja yang temperamental. Sang anak menjadi bebas dalam melakukan segala hal, baik itu dalam hal kebaikan maupun keburukan. Sebagai orangtua seharusnya memiliki kemampuan untuk memusatkan perhatian pada perilaku positif serta tak lupa pada perilaku buruk sang anak. Sebagai orang tua yang baik, jangan melihat keburukan atau kebaikan. Namun lihatlah dari tata cara bergaul sang anak, dengan siapa bergaul, bagaimana luas pergaulannya. Bukan sekedar untuk membatasi sang anak dalam bergaul namun diharapkan impian melihat anak sukses mengarungi kehidupan tanpa mengalami kesalahan dalam pergaulan baik dilingkungan keluarga, atau lingkungan luar menjadi sebuah kenyataan. Manfaatnya kembali ke orang tua, sebab sang anak lalu menjadi orang yang menghargai kedua orang tua.

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Enam Siswa SMKN 1 Punggelan Terpilih Jadi Anggota Paskibra Kabupaten Banjarnegara

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh SMK Negeri 1 Punggelan. Pada tahun 2025 ini, enam siswa berhasil lolos seleksi dan terpilih menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka

17/08/2025 19:05 WIB - Tim Humas SMKN 1 Punggelan
PENGUKUHAN PASKIBRA KECAMATAN PUNGGELAN TAHUN 2025

Pengukuhan Paskibra Kecamatan Punggelan Tahun 2025 di SMKN 1 Punggelan Pada Sabtu, 16 Agustus 2025, sebanyak kurang lebih 70 siswa-siswi SMKN 1 Punggelan resmi dikukuhkan sebagai anggo

16/08/2025 17:10 WIB - Tim Humas SMKN 1 Punggelan
BPJS Ketenagakerjaan Melakukan Sosialisasi untuk Siswa yang akan Berangkat PKL

SMK Negeri 1 Punggelan pada Selasa, 12 Agustus 2025, menggelar kegiatan sosialisasi BPJS Ketenagakerjaan bagi siswa-siswi kelas XII Jurusan Akuntansi dan Keuangan Lembaga

14/08/2025 08:08 WIB - Tim Humas SMKN 1 Punggelan
Sosialisasi Alfamart di SMKN 1 Punggelan, Kenalkan Dunia Kerja Ritel kepada Siswa

Pada Rabu, 23 April 2025, SMK Negeri 1 Punggelan menggelar kegiatan Sosialisasi Alfamart yang bertempat di Solid Convention Hall (SCH). Kegiatan ini diikuti oleh siswa dan siswi dari be

23/04/2025 14:21 WIB - Tim Humas SMKN 1 Punggelan
SMKN 1 Punggelan Laksanakan SPMB Boarding Tahun 2025

SMK Negeri 1 Punggelan melaksanakan kegiatan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) khusus program Boarding pada Rabu, 23 April 2025. Bertempat di Laboratorium Komputer, pelaksanaan SPMB i

23/04/2025 14:05 WIB - Tim Humas SMKN 1 Punggelan
SMK Negeri 1 Punggelan Gelar Uji Coba SPMB Tahun 2025

Pada hari Rabu, 23 April 2025, SMK Negeri 1 Punggelan melaksanakan kegiatan Uji Coba Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun 2025. Kegiatan ini dilaksanakan di Laboratorium Komputer J

23/04/2025 13:15 WIB - Tim Humas SMKN 1 Punggelan
SMKN 1 Punggelan Konsisten Ukir Prestasi di LKS Tingkat Kabupaten Banjarnegara

SMK Negeri 1 Punggelan kembali menunjukkan eksistensinya dalam ajang Lomba Kompetensi Siswa (LKS) Tingkat Kabupaten Banjarnegara tahun 2025 dengan menorehkan berbagai prestasi membangga

24/02/2025 09:00 WIB - Tim Humas SMKN 1 Punggelan
SMK Negeri 1 Punggelan: "Spirit Maulid Nabi"

Punggelan, 17 September 2024 – SMK Negeri 1 Punggelan menggelar acara pengajian dan sholawat bersama dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW tahun 1446 H. Acara yang be

07/10/2024 10:49 WIB - Tim Humas SMKN 1 Punggelan
SMKN 1 Punggelan Mengadakan Workshop Literasi: Sekolah Berbasis Industri 4.0 2024

Pada tanggal 26 September 2024, SMK Negeri 1 Punggelan mengadakan workshop literasi dalam rangka mendukung penerapan SMK berbasis industri 4.0. Acara ini dihadiri oleh para guru dan sis

26/09/2024 14:15 WIB - Tim Humas SMKN 1 Punggelan
Workshop Implementasi dan Reviu Kegiatan Pembelajaran TEFA SMK 4.0

Pada hari Senin, 09 September 2024, SMK Negeri 1 Punggelan mengadakan Workshop Implementasi dan Riviu Pembelajaran Teaching Factory (TEFA) sebagai langkah dalam penerapan SMK berbasis i

09/09/2024 13:05 WIB - Tim Humas SMKN 1 Punggelan